Kamis, 03 Januari 2013

Kamp Tapol Perempuan G30S di Plantungan - Kendal

Kamp Tapol Perempuan G30S di Plantungan - Kendal

Diterbitkan : 7 Oktober 2011 - 1:10pm | Oleh KBR 68H (Foto KBR68H)
Nama Plantungan memang tak setenar Pulau Buru yang menjadi tempat pembuangan para tahanan politik dengan cap PKI. Namun Plantungan yang terletak di Kendal, Jawa Tengah menjadi saksi dari kisah tragis perempuan Indonesia yang dikurung di bekas Rumah Sakit Lepra tersebut.
Di sinilah sekitar 500an perempuan yang dituduh komunis ditahan selama bertahun-tahun. Reporter KBR68H Suryawijayanti mengajak salah satu penghuni Plantungan kembali menyusuri kamp pembuangan tapol perempuan ini.
Perkenalan
Mujiati: Nama saya Mujiati, dulu saya tinggal di Slipi, Jakarta. Waktu peristiwa 65, saya termasuk orang yang ditahan, bersama bapak saya. Karena waktu itu saya menjadi anggota organisasi pemuda rakyat. Saya tak mengerti kenapa anggota pemuda rakyat dituduh melakukan pembunuhan di Lubang Buaya. Padahal saya juga gak mengerti Lubang Buaya itu di mana.
Sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya, Mujiati menunjuk sejumlah perempuan dalam foto hitam putih. Foto itu diambil di depan sebuah klinik di Plantungan, sekitar 40 tahun lalu.
Suasana Menunjukkan Foto-foto
Mujiati: Ini yang sebaya aku, yang dibuang ke Buru semua. Ini Nyonya Heriani, ini Tatik Lestari dari Satyawacana, lalu ini wartawan Antara, sekarang di Belanda, Ini Endang dari Pekalongan, ini Ibu Dokter, ini Ibu Cahyamurat. Lha ini kliniknya, panggung bentuknya, di bawahnya kali Lampir.
Plantungan, nama desa di perbatasan Kabupaten Kendal dan Batang, Jawa Tengah. Pada zaman penjajahan Belanda, Plantungan menjadi tempat penampungan penderita lepra. Selama hampir 100 tahun sejak dibangun pada 1870, para penderita lepra diisolasi di desa ini. Pada 1970-an, Plantungan menjadi tempat pembuangan 500an perempuan yang divonis terlibat atau dianggap dekat dengan Partai Komunis Indonesia. Mujiati, salah satu bekas penghuni Plantungan.
Kondisi Blok
Mujiati: Blok untuk ruang tidur itu hanya dipan, paling banyak diisi 50 orang. Satu dipan dipakai 4 orang. Trus ada kotak untuk tempat pakaian. Kita ruang makan di luar, jadi gak boleh bawa makanan ke blok. Lalu makan di luar ada meja, kita dapat rantang.
Tiap tapol mempunyai tugas rutin yang wajib dilakukan dengan pengawasan ketat.
Kegiatan di Kamp
Mujiati: Kita rata-rata jam lima bangun, karena jam 5.45 harus apel. Kalau yang tugas dapur ya jam 3 bangun, dan ini tugas giliran sebulan sekali. Lalu yang tugas bersih-bersih ruangan sampai ambil makanan. Nah yang tidak dapat tugas itu ada kerja unit, ada unit pertanian, penjahitan, peternakan. Kalau peternakan ada ternak kambing, kelinci, ayam. Kalau pertanian kita nanam singkong, ubi, lalu sayuran. Di sini yang tumbuh bagus sawi, labu siam. Nah kangkung gak bisa tumbuh di sini.
Makanan
Mujiati: Kadal, bekicot itu makanan kita sehari-hari. Lalu ada daun-daun yang kita makan. Nah ini ada daun tikim, ini obat lapar. Asinan betawi dulu pakai ini. Ini juga namanya daun sintrong, kita makan juga. Kita makan segala untuk bertahan hidup, protein hewani ya bekicot, yuyu, sompil, kadal, ular. Ular itu takut sama kita, bukan kita takut sama ular.
Di Plantungan, tiap tapol terikat pada pola yang wajib dilakon. Mata pengawas di mana-mana, bahkan menyusup ke dalam blok.
Pertengkaran
Mujiati: Di sini khan ada juga yang dekat dengan komandan, ya kita harus hati-hati saja. Mereka dapat tugas untuk mengawasi teman-temannya.
KBR68H: Jadi tugasnya mengadu domba?
Mujiati: Iya. Mereka itu dipanggil ke atas. Kalau istilah kita mereka makan nasi putih, makan enak, diajak pergi, dibelikan baju baru. Yang dilaporkan itu hal-hal yang tak prinsipil. Misalnya saya yang Nasrani, makan gak berdoa, tidur gak berdoa, itu dilaporkan ke komandan. Khan bukan hal politis banget.
Penjagaan
KBR68H: Penjagaan waktu itu seperti apa?
Mujiati: Mereka selalu kontrol, maka demi keamanan kalau tidur kita pakai celana panjang.
KBR68H: Tapi ada kasus-kasus pelecehan seksual?
Mujiati: Waktu itu yang melayani komandan, sakit, dipanggil Bu Bidan Ratih, diperiksa. Dan hasil pemeriksaan, hanya dengan diraba, sudah ketauan kalau hamil. Lalu komandan sejak saat itu tidak boleh turun, kalau turun ke blok dijaga oleh anak buahnya atau CPM
KBR68H: Akhirnya nasib dari tapol yang hamil, gimana?
Mujiati: Komandan akhirnya dibebas-tugaskan dari sini dan diganti. Aminah kemudian dibebaskan pada 1978 dalam posisi mengandung 6 bulan dan sampai saat ini kami gak pernah dengar beritanya.
Orde Baru sukses menciptakan cap buruk bagi perempuan yang terlibat atau dituding simpatisan PKI. Para aktivis Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) digambarkan turut terlibat dalam pembunuhan para jenderal di Lubang Buaya dengan melakukan tari-tarian saat pembantaian dilakukan. Mereka bahkan dilukiskan turut menyilet para jenderal.
Namun stigma yang keji itu pupus ketika para tapol justru menjadi penyelamat warga sekitar, di Plantungan.
Ngobrol Dengan Warga
Mujiati: Sebelum kami datang masyarakat sudah diindoktrinasi, hati-hati dengan orang-orang di blok. Ada tuh pak Haji kalau hari Jumat khotbahnya bilang: Saudara-saudara jangan dekat dengan bekas-bekas PKI, perempuan pakai celana. Padahal kita pakai celana khan biar praktis kalau ke sawah manggul pacul.

Slamet: Saya berterima-kasih dengan pertolongan Bu Bidan Ratih dan kawan-kawan, karena banyak pertolongannya. Warga di sini gak ada yang berobat ke tempat lain, selain di klinik. Slamet, salah satu warga yang merasakan pertolongan para tapol perempuan. Anak-anaknya lahir lewat tangan Bidan Ratih yang kondang di sekitar Plantungan. Siti Duratih dulunya bidan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Ia dibuang ke Plantungan karena suaminya, Oloan Hutapea menjadi anggota Departemen Agitasi dan Propaganda, Partai Komunis Indonesia. Siti Duratih di usia senjanya sudah susah untuk diajak berjalan jauh, karena kakinya yang semakin renta.
Sudah hampir 46 tahun semenjak peristiwa 30 September 1965. Namun bagi Mujiati, peristiwa itu masih menyisakan tanda tanya besar. Ia yang ditahan tanpa diadili, selama puluhan tahun harus menanggung diskriminasi. Dikucilkan, tak diakui sebagai warga negara.
Soal Lubang Buaya
Mujiati: Kamu ikut ke Lubang Buaya yah? Nggak pak. Ya tuduhannya itu, kalo pemuda rakyat pasti tuduhannya tanggal 30 di Lubang Buaya, nyilet-nyilet jenderal, kita disuruh mengaku. Kalau gak mengaku ya disiksa, dipukul. Saya ditampar mulut saya, muka saya. Lha karena saya gak kesana ya saya bertahan gak ngaku.
Meski mengaku tak bersalah, Mujiati tetap dijebloskan ke penjara wanita Bukitduri. Enam tahun kemudian, Mujiati bersama puluhan tapol lainnya digelandang ke Plantungan, Jawa Tengah. Mujiati menjadi tahanan ke-358 yang dijebloskan ke penjara itu.
Menuju Plantungan
Mujiati: Jam tiga kita dibangunkan, trus kita dikumpulkan di aula, barang-barang diperiksa, orangnya diperiksa ditelanjangi, jadi kita cuma pake BH dan celana dalam, diperiksa oleh KOWAD (Korps Wanita Angkatan Darat). Kita diberangkatkan kira-kira jam 4 dengan 2 bus. Waktu itu depan Jatinegara sepi, dikawal. Di Wleri kita dijemput oleh komandan Plantungan
KBR68H: Pertama kali sampai di Plantungan gimana?
Mujiati: Kita gak dicampur dengan teman-teman terdahulu. Kita dipisah selama kurang lebih sebulan, baru kemudian dikumpulkan jadi satu dengan yang lain. Kita khan pakai nomer, nah saya dapat nomer 358. Artinya adalah orang yang 358 tiba di Plantungan.
Pengasingan terhadap Tapol berakhir pada 1979 ketika dunia Internasional mengecam Indonesia. Tekanan datang terutama dari Amnesti Internasional dan negara-negara donor. Mereka mendesak Indonesia untuk membebaskan para tahanan politik sebagai prasyarat cairnya bantuan internasional bagi pemerintah Indonesia.
Mujiati masuk kloter terakhir yang keluar dari Plantungan. Pembebasan bukan berarti kebebasan tanpa syarat bagi bekas tapol. Hingga memaksa Mujiati dan suaminya mengubur sejarah kelam itu.
Soal Anak dan PKI
Mujiati: Pada waktu masih ada ayahnya kita rahasiakan, agar anak-anak tak tahu. Tadinya dia bilang, Bu kita tanggal 1 Oktober nonton film G30S/PKI, Bu PKI itu jahat, bunuh jenderal, ya kita diam saja. Setelah ayahnya meninggal pada 1994, saya berterus terang, daripada nanti dengar dari orang, lebih baik saya yang kasih tahu. Memang betul nak, enam Jenderal dibunuh, ditambah 1 perwira. Tapi yang membunuh itu tentara, bapak dan ibumu menjadi korban dituduh menjadi anggota PKI. Ribuan teman-teman bapak dan ibumu jadi korban. Sejak saat itu mereka tahu soal bapak dan ibunya.
Di usia lebih 60 tahun, Mujiati kini masih sibuk dengan aktivitas bersama teman-teman seperjuangannya. Nenek satu cucu ini masih berjuang meluruskan sejarah. Rekaman kesewenang-wenangan rezim Orde Baru diimbanginya dengan kisah yang dia tuturkan sebagai pelaku sejarah.
Tanggapan Atas Napak Tilas
KBR68H: Sehari ini kita napak tilas, lalu kemudian kita bertemu dengan warga dan para saksi sejarah, bagaimana perasaan eyang?
Mujiati: Terharu ya, teryata mereka terhadap kami tidak ada kesan yang jelek. Begitu cintanya dengan kita, sampai pertemuan tadi yang begitu hangatnya. Gak bisa terkatakan, haru, bangga yang masih mengenal kita. Mereka mengenang baiknya, merasa ditolong.
Soal Sejarah
Mujiati: Inilah dari kami seperti ini, lalu yang kalian dengar dari versi pemerintah. Anda-andalah yang menentukan. Itu terserah anda yang menilainya
Laporan ini disusun oleh Reporter KBR68H, Suryawijayanti, untuk Radio Nederland Wereldomroep.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar